Kultur Sekolah

 

Laporan ke 7

Nama : Yuliana

Nim : 11901257

Kelas : PAI 4 C

Makul : Magang 1

 

A.   APengertian Kultur

            Istilah kultur berasal dari bahasa Inggris “culture” yang dalam keseharian disinonimkan dengan istilah “budaya”. Kultur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai kebudayaaan (Depdiknas, 2001: 611). Istilah budaya sendiri dalam berbagai wacana, ada yang membedakan dan ada juga yang menyamakannya dengan kebudayaan (Koentjaraningrat, 1983: 183). Dikatakan berbeda sebab budaya berasal dari bahasa Sanskerta “buddhi”, yang berarti “budi” atau “akal” yang berupa cipta, rasa, dan karsa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, rasa, dan karsa itu. Dikatakan sama sebab dari segi anthropologi budaya misalnya, budaya merupakan singkatan dari kebudayaan. Dengan demikian, kedua istilah itu sebenarnya mempunyai pengertian yang sama. Berikutnya Koentjaraningrat (1983: 184) menyatakan bahwa kebudayaan atau budaya mempunyai tiga macam wujud, yaitu:

a.       Kebudayaan sebagai ide, gagasan, nilai, norma atau peraturan.

b.      Kebudayaan sebagai aktivitas atau tindakan manusia yang berpola sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat.

c.       Kebudayaan sebagai hasil karya.

Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa Kultur yang biasa kita sebut sebagai budaya na budaya itu sendiri adalah suatu kehidupan yang memiliki cara yang selalu berkembang dalam suatu kelompok masyarakat yang diwarisan turun temurun. Budaya itu berarti budi atau akal yang berupa Cipta, Rasa, dan Karsa disini ada juga kebudayaan kebudayaan itu sendiri merupakan hasil dari Cipta Rasa dan Karsa. Budaya merupakan singkatan dari kebudayaan dan budaya memiliki 3 macam wujud.

 

B.  B.   Pengertian Kultur Sekolah

                        Menurut Zamroni (2000: 149), konsep kultur dalam dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri, yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses produksi secara efektif dan efisien. Sebagaimana tidak ada satu definisi baku tentang budaya, demikian juga tidak ada definisi baku mengenai kultur sekolah. Berdasarkan berbagai definisi tentang budaya, Zamroni merumuskan pengertian kultur sekolah sebagai pola nilai-nilai, norma-norma, sikap, ritual, mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dalam perjalanan panjang sekolah, di mana kultur sekolah tersebut dipegang bersama oleh kepala sekolah, guru, staf, maupun siswa, sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah. Tokoh lain Phillips (1993: 1) mendefinisikan kultur sekolah sebagai “The beliefs, attitudes, and behaviors which characterize a school”, yaitu kepercayaan, sikap, dan perilaku yang mencerminkan karakteristik suatu sekolah. Berikutnya Richardson (Masden & Wagner, 2005: 1) mendefinisikan ktltur sekolah sebagai: “…is the accumulation of many individuals‟ values and norms. It‟s the group‟s expectations, not just an individual‟s expectations. It‟s the way everyone does business.” Menurutnya, kultur sekolah merupakan akumulasi nilai-nilai dan norma-norma sekelompok orang; pandangan kelompok ke depan, bukan individu; dan cara setiap orang dalam memandang dan memecahkan persoalan.

            Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan kultur sekolah yaitu cara yang memberikan landasan atau arahan dalam proses pendidikan secara efektif dan efisien jadi kultur sekolah itu bisa dijelaskan sebagai pola nilai-nilai, norma-norma, sikap, ritual, dan kebiasaan-kebiasaan yang ada dimana kepala sekolah guru staf maupun siswa yang memegang kultur sekolahnya karena mereka menjadi dasar dalam memahami dan memecahkan berbagai proses yang muncul di sekolah.

 

C.     C. Elemen-elemen kultur sekolah

            Hedley Beare (Sastrapratedja, 2001: 14) mendeskripsikan unsur-unsur budaya sekolah dalam dua katagori, yakni unsur yang kasat mata/visual dan unsur yang tidak kasat mata. Unsur yang kasat mata mempunyai makna kalau berkaitan atau kalau mencerminkan apa yang tidak kasat mata. Yang tidak kasat mata itu adalah filsafat atau pandangan dasar sekolah mengenai kenyataan yang luas, makna hidup, tugas manusia di dunia dan nilai-nilai, yaitu apa yang dianggap penting dan harus diperjuangkan oleh sekolah. Itu semua harus dinyatakan secara konseptual dalam rumusan visi, misi, tujuan dan sasaran yang lebih konkrit yang akan dicapai sekolah. Adapun unsur yang kasat mata dapat termanifestasi secara konseptual/verbal maupun visual/ materil. Yang verbal meliputi: (1) visi, misi, tujuan dan sasaran; (2) kurikulum; (3) bahasa komunikasi; (4) narasi sekolah; (5) narasi tokoh-tokoh; dan (6) struktur organisasi; (7) ritual; (8) upacara; (9) prosedur belajarmengajar; (10) peraturan, sistem ganjaran/hukuman; (11) pelayanan psikologis sosial; (12) pola interaksi sekolah dengan orang tua/masyarakat, dan yang materiil dapat berupa: (1) fasilitas dan peralatan; (2) artifak dan tanda kenangan; (3) pakaian seragam.

            Disebutkan dalam buku Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah (Depdiknas, 2003: 3) bahwa kultur sekolah memiliki dua lapisan. Lapisan pertama sebagian dapat diamati dan sebagian tidak dapat diamati. Lapisan yang bisa diamati seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara, ritusritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambargambar, tanda-tanda sopan santun dan cara berpakaian. Lapisan yang tidak dapat diamati secara jelas dapat berintikan norma perilaku bersama warga suatu organisasi. Lapisan kedua kultur sekolah berupa nilai-nilai bersama yang dianut kelompok berhubungan dengan apa yang penting, yang baik, dan yang benar. Lapisan kedua semuanya tidak dapat diamati karena terletak di dalam kehidupan bersama. Jika lapisan pertama yang berintikan norma perilaku bersama sukar diubah, maka lapisan kedua yang berintikan nilai-nilai dan keyakinan sangat sukar diubah serta memerlukan waktu untuk berubah.

            Dari Penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa elemen-elemen kultur sekolah itu yang pertama ada dua kategori unsur-unsur budaya Sekolah menurut para ahli yang pertama yaitu unsur yang kasat mata atau visual unsur yang kasat mata ini memiliki atau mempunyai makna kalau dikaitkan dengan apa yang tidak kasat mata. Yang kedua yaitu ada unsur yang tidak kasat mata, unsur Ya Allah seperti filsafat atau pandangan dasar sekolah mengenai pernyataan yang luas makna hidup tugas manusia di dunia dan nilai-nilai atau yang dianggap penting dan yang diperjuangkan oleh sekolah.     

            Elemen-elemen yang kedua itu ada dua lapis kultur sekolah lapisan yang pertama yang sebagian yang dapat kita amati ada sebagian yang tidak dapat kita amati titik contohnya tuh arsitektur, tata ruang, kebiasaan, peraturan, slogan bendera, gambar tanda-tanda sopan santun, cara berpakaian dan lain-lain. Untuk Lapisan yang tidak diamati itu yang berdasarkan norma perilaku warga suatu organisasi. Lapisan yang kedua kultur sekolah itu berupa nilai-nilai bersama kelompok yang dihubungkan dengan apa yang penting, baik dan benar. Lapisan kedua ini tidak dapat kita amati karena terletak di kehidupan bersama. Nah jadi jika lapisan pertama itu dapat sulit diubah bentuk lapisan kedua itu sangat sulit untuk diubah dan banyak memerlukan waktu untuk berubah.

 

D.    D. Peran Kultur terhadap Peningkatan Kinerja Sekolah

            Kinerja sekolah (Depdiknas, 2001: 152) adalah prestasi yang dihasilkan dari proses atau perilaku sekolah, yang dapat dilihat dari produktivitas, efisiensi, inovasi, kualitas kehidupan kerja dan moral kerjanya. Kinerja sekolah meliputi juga kinerja siswa yaitu hasil belajar dan atau perilaku belajar, dalam hal ini disiplin, motivasi, daya saing dan daya kerja sama, kemampuan untuk berprakarsa dan memperhitungkan resiko serta sikap pencapaian prestasi dalam persaingan. Suyanto & Abbas (2001: 114) mengemukakan, sekolah adalah lembaga pendidikan yang selama ini kerap menjadi sasaran pertanyaan masyarakat berkaitan dengan kinerja dan produk kerjanya yang cenderung di bawah standar mutu yang diharapkan. Zamroni (2000: 147) mengemukakan bahwa sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat berkaitan dengan mutu sekolah, yakni proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah. Program aksi untuk peningkatan kualitas tidak dapat tidak harus meliputi ketiga aspek pokok tersebut.

            Kultur sekolah dapat memperbaiki kinerja siswa manakala kualifikasi kultur sehat, solid, kuat, positif dan profesional. Artinya kultur sekolah seyogyanya menjadi komitmen luas di sekolah, menjadi jati diri dan kepribadian sekolah, bahkan didukung oleh stakeholder-nya. Dengan kultur sekolah yang demikian, suasana kekeluargaan, kolaborasi, semangat terus maju, dorongan bekarja keras dan belajar-mengajar dapat diciptakan. Sejalan dengan berbagai pengertian budaya atau kultur yang dikemukakan dalam uraian sebelumnya maka dapat dipahami bahwa konsep kultur sebagai suatu pendekatan dalam upaya memperbaiki kondisi organisasi sekolah lebih menekankan kepada penghayatan segi-segi simbolik, tradisi, riwayat sekolah yang kesemuanya akan membentuk keyakinan, kepercayaaan diri dan kebanggaan akan sekolahnya. Pendekatan kultur berbeda dengan pendekatan struktur. Pendekatan yang terakhir ini cenderung tampak ingin menciptakan hal-hal besar dengan mengubah struktur untuk mengubah perilaku, sementara perilaku seseorang pada kenyataanya terlalu kuat untuk direstrukturisasi atau direformasi dari luar. Sebaliknya pendekatan kultur justru mengusahakan agar muncul orang-orang besar, berjiwa besar atau dalam arti membangun manusia yang meliputi sifat, karakter, visi, dan daya tahan melalui internalisasi norma, sikap, kebiasaan serta nilai-nilai yang bersifat positif. Oleh karena banyak kalangan meyakini bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan IQ yang tinggi semata melainkan dipengaruhi juga oleh motivasi, ketekunan, minat, kesabaran, dan unsur-unsur kepribadian (Emotional Quotient, Spiritual Quotient).

            Dari Penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa kinerja sekolah itu merupakan prestasi yang dihasilkan dari perilaku Sekolah dari mana kita melihatnya dari produktivitas efisiensi, inovasi, kualitas kehidupan kerja dan moral kerjanya. Sekolah itu salah satunya itu ada kinerja siswa yakni hasil belajar dari siswa, perilaku belajar, kerjasama, disiplin dan lain-lain. Pengertian sekolah sendiri itu adalah lembaga pendidikan yang memiliki tiga aspek pokok menurut para ahli yaitu pertama proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah serta kurikulum sekolah. Kultur sekolah lah yang dapat memperbaiki kinerja siswa dimana mana pendidikan khusus ini memiliki kultur yang sehat, Solid, kuat, positif dan profesional. Artinya kultur sekolah itu menjadi komitmen di sekolah dan menjadi jati diri dan kepribadian dari sekolah dengan adanya kultur sekolah ini maka suasananya itu lebih kekeluargaan dan selalu bekerja keras dan belajar-mengajar yang dapat diciptakan. Dengan konsep kultur itu maka kultur sekolah ini merupakan suatu pendekatan dalam upaya memperbaiki kondisi organisasi sekolah lebih menekankan pada penghayatan segi simbolik, tradisi riwayat sekolah kepercayaan diri dan kebanggaan kebanggaan atas sekolah. Pendekatan kultur ini justru mengusahakan agar munculnya orang yang berjiwa besar dan dapat membangun manusia. Nah maka banyak kalangan yang mengatakan bahwa keberhasilan seseorang itu tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan saja melainkan di dipengaruhi juga oleh motivasi, ketekunan, minat, kesabaran dan unsur-unsur kepribadian.

 

Referensi : Imtihan Nurul, Kultur sekolah dan kinerja peserta didik MAN Yogyakarta III, Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 6, No. 2, Thn. 2018, hlm. 32-38.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Strategi Pembelajaran

Perangkat Pembelajaran