Strategi Pembelajaran
Laporan ke 5
Nama : Yuliana
Nim :11901257
Kelas : PAI 4 C
Makul : Magang 1
Bab II
A. Pengertian Strategi
Kata strategi berasal dari bahasa Latin, yaitu ‘strategia’ yang berarti seni penggunaan rencana untuk mencapai tujuan. (Al Muchtar, dkk., 2007: 1.2) Secara umum strategi adalah alat, rencana, atau metode yang digunakan untuk menyelesaikan suatu tugas (Beckman, 2004: 1). Dalam konteks pembelajaran, strategi berkaitan dengan pendekatan dalam penyampaian materi pada lingkungan pembelajaran. Strategi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai pola kegiatan pembelajaran yang dipilih dan digunakan guru secara kontekstual, sesuai dengan karakteristik peserta didik, kondisi sekolah, lingkungan sekitar dan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Strategi pembelajaran terdiri dari metode, teknik, dan prosedur yang akan menjamin bahwa peserta didik akan betul-betul mencapai tujuan pembelajaran. Kata metode dan teknik sering digunakan secara bergantian (Al Muchtar, dkk., 2007: 1.3). Untuk itu, strategi pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditentukan agar diperoleh langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien (Gerlach dan Ely, 1971: 207).
Menurut Miarso (2005), strategi pembelajaran adalah pendekatan menyeluruh pembelajaran dalam suatu sistem pembelajaran, yang berupa pedoman umum dan kerangka kegiatan untuk mencapai tujuan umum pembelajaran, yang dijabarkan dari pandangan falsafah dan atau teori belajar tertentu. Seels dan Richey (1994: 31) menyatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan rincian dari seleksi pengurutan peristiwa dan kegiatan dalam pembelajaran, yang terdiri dari metode-metode, teknik- teknik maupun prosedur-prosedur yang memungkinkan peserta didik mencapai tujuan. Kauchak dan Eggen (1993: 12) mengartikan strategi pembelajaran sebagai seperangkat kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut Suparman (1997: 157) strategi pembelajaran merupakan perpaduan urutan kegiatan pembelajaran (tahap-tahap yang perlu dilalui/diikuti dalam penyajian materi pembelajaran) metode atau teknik pembelajaran (prosedur teknis pengorganisasian bahan dan pengelolaan peserta didik dalam proses pembelajaran), media pembelajaran (peralatan dan bahan pembelajaran yang digunakan sebagai media proses pembelajaran), dan waktu pembelajaran (waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan kegiatan pembelajaran).
Dari pemaparan diatas dapat saya simpulkan bahwa strategi yaitu pola kegiatan pembelajaran yang akan digunakan guru dalam proses belajar mengajar sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan.
B. Komponen-Komponen Strategi Pembelajaran
Dick dan Carey (1996: 184) menyebutkan bahwa terdapat 5 komponen strategi pembelajaran, yaitu kegiatan pembelajaran pendahuluan, penyampaian informasi, partisipasi peserta didik, tes dan kegiatan lanjutan.
Pertama, kegiatan pembelajaran pendahuluan. Kegiatan pembelajaran pendahuluan memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran. Pada kegiatan ini pendidik diharapkan dapat menarik minat peserta didik atas materi pelajaran yang akan disampaikan. Kegiatan pendahuluan yang disampaikan dengan menarik akan dapat memotivasi peserta didik untuk belajar. Sebagaimana iklan yang berbunyi: “Kesan pertama begitu menggoda…. selanjutnya terserah anda…”, maka demikian pula dengan peserta didik yang dihadapi pendidik (guru). Cara guru mempekenalkan materi pelajaran melalui contoh-contoh ilustrasi tentang kehidupan sehari-hari atau cara guru menyakinkan apa manfaat mempelajari pokok bahasan tertentu akan sangat mempengaruhi motivasi belajar peserta didik (Nurani, dkk., 2003: 1.9).
Kedua, penyampaian informasi. Dalam kegiatan ini pendidik akan menetapkan secara pasti informasi, konsep, aturan, dan prinsip-prinsip apa yang perlu disajikan kepada peserta didik. Di sinilah penjelasan pokok tentang semua materi pembelajaran. Kesalahan utama yang sering terjadi pada tahap ini adalah menyajikan informasi terlalu banyak, terutama jika sebagian besar informasi itu tidak relevan dengan tujuan pembelajaran (Al Muchtar, dkk, 2007: 2.7). Di samping itu, pendidik harus memahami dengan baik situasi dan kondisi yang dihadapinya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian informasi, yaitu urutan, ruang lingkup, dan jenis materi.
Ketiga, partisipasi peserta didik. Partisipasi peserta didik sangat penting dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran akan lebih berhasil apabila peserta didik secara aktif melakukan latihan-latihan secara langsung dan relevan dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan (Nurani, dkk., 2003: 1.11).
Keempat, tes. Ada dua jenis tes atau penilaian yang biasa dilakukan oleh kebanyakan pendidik, yaitu pretest dan posttest (Al Muchtar, 2007: 2.8). Secara umum tes digunakan oleh pendidik untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran khusus telah tercapai atau belum dan apakah pengetahuan, keterampilan dan sikap telah benar-benar dimiliki peserta didik atau belum. Pelaksanaan tes biasanya dilaksanakan diakhir kegiatan pembelajaran setelah peserta didik melalui berbagai proses pembelajaran, yaitu penjelasan tujuan diawal kegiatan pembelajaran, penyampaian informasi berupa materi pembelajaran. Di samping itu, pelaksanaan tes juga dilakukan setelah peserta didik melakukan latihan atau praktik (Nurani, dkk., 2003: 1.12).
Kelima, kegiatan lanjutan. Kegiatan lanjutan atau follow up, secara prinsip ada hubungannya dengan hasil tes yang telah dilakukan. Karena kegiatan lanjutan esensinya adalah untuk mengoptimalkan hasil belajar peserta didik (Winaputra, 2001: 3.43).
Dari pemaparan diatas dapat saya simpulkan komponen-komponen dari strategi pembelajaran itu memiliki 5 komponen dari strategi pembelajaran komponen yang pertama yaitu kegiatan pembelajaran pendahuluan nah kegiatan pembelajaran pendahuluan ini mempunyai peranan penting dalam suatu proses pembelajaran. Dimana kegiatan ini gurulah atau pendidik yang sangat diharapkan dapat menarik minat para peserta didik yang yang menyampaikan materi pembelajaran, di dalam kegiatan pendahuluan ini guru harus membuat materi yang menarik sehingga dengan materi tersebut peserta didik dapat termotivasi dalam belajar. Komponen yang kedua yaitu penyampaian informasi di dalam kegiatan ini pendidik atau guru yang menetapkan informasinya, konsep, aturan, dan prinsip- prinsip yang akan disajikan kepada peserta didik. Dalam penyampaian informasi ini maka di komponen inilah yang memberikan penjelasan pokok tentang semua materi dalam pembelajaran. Komponen yang ketiga yaitu partisipasi peserta didik, partisipasi ini sangatlah penting Dalam proses pembelajaran maka ketika peserta didiknya berpartisipasi dalam proses pembelajaran maka proses pembelajaran akan lebih berhasil dikarenakan aktifnya peserta didik. Komponen yang keempat yakni tes komponen ini memiliki dua jenis tes atau bisa kita sebut sebagai penilaian yang pertama yaitu pretest dan posttest tes Ini digunakan oleh pendidik agar mengetahui tujuan dari pembelajaran Apakah sudah tercapai pembelajaran tersebut. Na Komponen yang kelima yaitu follow up atau bisa kita sebut dengan kegiatan lanjutan antara hasil tes tadi dengan follow up sebenarnya memiliki hubungan karena keduanya sama-sama memiliki tujuan mengetahui sampai mana Apakah pembelajaran tersebut sudah tercapai dalam kegiatan lanjutan ini atau follow up lebih menekankan untuk mengoptimalkan hasil belajar dari peserta didik.
C. Prinsip-Prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran
Setiap strategi pembelajaran memiliki kekhasan dan keunikan sendiri-sendiri. Tidak ada strategi pembelajaran tertentu yang lebih baik dari strategi pembelajaran yang lain. Untuk itu, pendidik harus mampu memilih strategi yang dianggap cocok dengan keadaan. Menurut Sanjaya ( 2006: 129-131), ada empat prinsip umum yang harus diperhatikan pendidik dalam penggunaan strategi pembelajaran, yaitu:
1. 1. Berorientasi pada tujuan. Dalam sistem pembelajaran, tujuan merupakan komponen yang utama. Segala aktivitas pendidik dan peserta didik, mestilah diupayakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, karena keberhasilan suatu strategi pembelajaran dapat dilihat dari keberhasilan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran;
2. 2. Aktivitas. Belajar bukan hanya menghafal sejumlah fakta atau informasi, tapi juga berbuat, memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Karena itu, strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas peserta didik, baik aktivitas fisik, maupun aktivitas yang bersifat psikis seperti aktivitas mental;
3. 3. Individualitas. Mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu peserta didik. Walaupun pendidik mengajar pada sekelompok peserta didik, namun pada hakikatnya yang ingin dicapai adalah perubahan perilaku setiap peserta didik. Pendidik yang berhasil adalah apabila ia menangani 40 orang peserta didik seluruhnya berhasil mencapai tujuan; dan sebaliknya dikatakan pendidik yang tidak berhasil manakala dia menangani 40 orang peserta didik 35 tidak berhasil mencapai tujuan pembelajaran;
4. 4. Integritas. Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh pribadi peserta didik. Dengan demikian, mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, tetapi juga mengembangkan aspek afektif dan aspek psikomotor. Oleh karena itu, strategi pembelajaran harus dapat mengembangkan seluruh kepribadian peserta didik yang mencakup kognitif, afektif, dan psikomotorik secara terintegrasi.
Keempat prinsip tersebut sejalan dengan peraturan pemerintah No. 32 tahun 2013, yang menyatakan bahwa proses pembelajaran pada satu satua pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik. Untuk itu setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan.
Dari pemaparan diatas dapat saya simpulkan starategi pembelajaran memiliki empat prinsip umum yaitu prinsip-prinsip dari penggunaan strategi pembelajaran yang mana setiap dari strategi pembelajaran ini memiliki kekhasan dan keunikan masing-masing maka pendidik harus mampu memilih strategi yang dianggap cocok Jalan Keadaan ada empat prinsip umum dari penggunaan strategi pembelajaran yaitu yang pertama berorientasi pada tujuan di dalam sistem pembelajaran tujuan ini merupakan salah satu komponen yang paling utama karena segala dari aktivitas pendidik dan peserta didik itu harus mengupayakan mencapai tujuan yang ditentukan karena keberhasilan dari suatu strategi pembelajaran itu bisa dilihat dari atau keberhasilan dari peserta didiknya sendiri apakah mencapai tujuan pembelajaran.
Prinsip yang kedua yaitu aktivitas di dalam pembelajaran bukan hanya menghafal melainkan memperoleh pengalaman yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan jadi strategi pembelajaran ini harus dapat mendorong aktivitas dari peserta didik baik fisik maupun bersifat psikis. Prinsip yang ketiga yaitu individualitas mengajar merupakan suatu usaha yang mengembangkan setiap dari individu siswa walaupun pendidik ini mengajar dengan berkelompok namun hakikatnya nya yang dicapai oleh pendidikan itu adalah perubahan perilaku dari individu peserta didik pendidikan dapat dikatakan berhasil jika pendidik bisa menangani seluruh peserta didik sehingga berhasil mencapai tujuan tertentu. Prinsip yang keempat yaitu integritas mengajar harus ditandai sebagai suatu usaha yang bisa mengembangkan seluruh pribadi dari setiap peserta didik karena mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja melainkan harus mengembangkan dari aspek afektif dan aspek psikomotorik sehingga strategi pembelajaran harus dapat mengembangkan seluruh dari setiap kepribadian peserta didik yang mencakup dari kognitif afektif dan psikomotorik secara terintegrasi. Nah dengan keempat prinsip tersebut juga sejalan dengan peraturan pemerintah No. 32 tahun 2013.
Referensi : Dr. Wahyudin Nur Nasution, M. Ag, 2017, Strategi Pembelajaran, Medan : Perdana Publishing.
Komentar
Posting Komentar