Kurikulum
Laporan ke 4
Nama : Yuliana
Nim : 11901257
Kelas : PAI 4 C
Makul : Magang 1
A. Pengertian
Kurikulum
Secara etimologi, kurikulum berasal
dari bahasa Yunani (Huda Rohmadi, 2012: 9) yaitu curir yang artinya pelari dan
curare yang berarti tempat berpacu (Idi, 2007: 183). Dalam Bahasa latin
curriculum berarti a running, course, or race course kemudian dalam Bahasa
Prancis courir yang memiliki arti berlari . Dari beberapa pengertian bahasa
latin tersebut kemudian digunakan istilah “courses” atau mata pelajaran yang
harus ditempuh untuk mendapatkan suatu gelar (Nasution, 2003: 9)
Secara terminologi, pengertian
kurikulum telah banyak dikemukakan oleh para ahli (Nurmadiah, 2018: 43).
Diantaranya :
1)
Menurut Crow kurikulum merupakan sebuah rancangan pengajaran atau sejumlah mata
pelajaran yang telah disusun secara sistematik guna menyelesaikan suatu program
dalam upaya meraih gelar atau memperoleh ijazah.
2)
Menurut Arifin kurikulum merupakan seluruh bahan pelajaran yang harus disajikan
dalam proses kependidikan dalam suatu sistem institusional Pendidikan.
3)
Menurut Mac Donald (1965; 3) (Syaodih Sukmadinata 2017) kurikulum merupakan
suatu rencana yang memberi pedoman atau pegangan yang digunakan dalam
berlangsungnya proses kegiatan belajar-mengajar.
Kurikulum menurut al-Shaybani yang
dikutip oleh Hasan Langgulung (1985; 145) kurikulum merupakan kumpulan
pengalaman pendidikan, kebudayaan, ilmu sosial, olahraga, serta ilmu kesenian
yang disediakan oleh lembaga pendidikan untuk peserta didik baik di dalam
maupun di luar lembaga pendidikan dengan tujuan mengembangkan secara menyeluruh
dalam semua aspek dan merubah tingkah laku sesuai tujuan pendidikan.Bagian ini
juga menyajikan hasil penelitian. Hasil penelitian dapat dilengkapi dengan
tabel, grafik (gambar), dan/atau bagan. Bagian pembahasan memaparkan hasil
pengolahan data, menginterpretasikan penemuan secara logis, mengaitkan dengan
sumber rujukan yang relevan.
Kurikulum menurut UU Sisdiknas No.
20 Tahun 2003 adalah seperangkat rencana pengaturan mengenai tujuan, isi dan
bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan
kurikulum tingkat satuan Pendidikan dan silabusnya pada setiap satuan
pendidikan (Arifin, 2018: 59).
Jadi kesimpulannya siswa yang
menempuh pendidikan dengan mempelajari mata pelajaran sehingga mencapai finist
yaitu gelar ataupun ijazah. bahwasannya kurikulum merupakan rancangan yaitu kumpulan
ide-ide pokok yang berupa tujuan, isi, mata pelajaran atau bahan ajar sehingga
dapat memberikan pedoman atau pegang yaitu dalam proses kegiatan
belajar-mengajar maka dengan itu dapat membentuk pribadi dan mempengaruhi
perkembangan peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan.
B. Perkembangan
kurikulum indosesia
Sejarah mencatat bahwa
Kurikulum yang pernah berlaku di Indonesia yakni kurikulum 1947 sampai
kurikulum 2013, kurikulum tersebut mengalami pembaruan-pembaruan mengikuti
perkembangan dunia pendidikan yang semakin modern dan tentunya karena faktor
perkembangan zaman. Berikut kurikulum dari dulu sampai sekarang.
1.
Kurikulum 1947 (Rentjana Pelajaran 1947)
Perubahan
arah pendidikan lebih bersifat politis, dari orientasi pendidikan Belanda ke
kepentingan nasional. Saat itu mulai ditetapkan asas pendidikan ditetapkan
Pancasila.
2.
Kurikulum 1952 (Rentjana Pelajaran
Terurai 1952)
Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional.
Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap
rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan
kehidupan sehari-hari, “Silabus mata pelajarannya jelas sekali, seorang guru
mengajar satu mata pelajaran,” ( Ahmad, Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas
periode 1991-1995).
3.
Kurikulum 1964 (Rentjana Pendidikan
1964).
Kurikulum
ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan
akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan
pada program Pancawardhana.
4.
Kurikulum 1968
Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis, Kurikulum 1968
sebagai kurikulum bulat. “Hanya memuat mata pelajaran pokok-pokok saja,”
5.
Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 menekankan pendidikan lebih efektif dan
efisien. kurikulum ini lahir karena pengaruh konsep di bidang manajemen MBO (management
by objective). Metode, materi, dan tujuan pengajaran. Dirinci dalam Prosedur
Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), dikenal dengan istilah satuan
pelajaran, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan (Drs. Mudjito, Ak,
MSi, Direktur Pembinaan TK dan SD Depdiknas).
6.
Kurikulum 1984
Kurikulum ini juga sering disebut Kurikulum 1975 yang disempurnakan
dengan memposisikan siswa sebagai subjek belajar, mengamati sesuatu,
mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara
Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL). Konsep CBSA yang elok
secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan,
mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional (Profesor
Dr. Conny R. Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986).
7. Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999
Pada kurikulum 1994 perpaduan tujuan dan proses belum berhasil
karena beban belajar siswa dinilai terlalu berat. Materi muatan lokal disesuaikan
dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian,
keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok
masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum.
8. Kurikulum 2004, KBK (Kurikulum Berbasis
Kompetensi)
Pada 2004 diluncurkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Suatu
program pendidikan berbasis kompetensi harus mengandung tiga unsur pokok, yaitu
pemilihan kompetensi sesuai, spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk
menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi, dan pengembangan pembelajaran.
9. Kurikulum Periode KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran)
2006
Pada Kurikulum 2006, pemerintah pusat menetapkan standar
kompetensi dan kompetensi dasar. Guru dituntut mampu mengembangkan sendiri
silabus dan penilaian sesuai kondisi sekolah dan daerahnya. Hasil pengembangan
dari semua mata pelajaran dihimpun menjadi sebuah perangkat dinamakan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
10. Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan, modivikasi dan pemutakhiran
dari kurikulum sebelumnya. Kurikulum ini adalah pengganti kurikulum KTSP.
Kurikulum 2013 memiliki tiga aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek
keterampilan, dan aspek sikap dan perilaku.
Jadi dari pemaparan diantas bahwasannya indonesia itu memiliki
kurikulum yang selalu berubah-ubah yang mengikuti perubahan zaman atau
perkembangan zaman maka dari itu kurikulum diindonesia mengalami pembaharuan
secara terus menerus karena memang tuntutan zaman dan dunia pendidikan juga
semakin berkembang pesat dan modern. Kurikulum yang berlaku diindonesia yaitu
dari kurikulum 1947 sampai dengan kurikulum 2013 untuk kurikulum yang pertama
yaitu kurikulum 1947 atau bisa disebut dengan Rentjana Pelajaran 1947 guru
kurikulum ini kurikulum yang bersifat politis yang orientasinya itu pendidikan
Belanda dengan kepentingan nasional pada saat itu asas dari pendidikan kita
ditetapkan oleh Pancasila.
Kurikulum yang kedua yaitu 1952 atau bisa disebut dengan
Rentjana Pelajaran Terurai kurikulum ini sudah mulai mengarahkan kepada suatu
sistem dari pendidikan nasional dari kurikulum ini ini yang menjadi ciri
khasnya yaitu setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi dari
pelajarannya dengan menghubungkan kehidupan sehari-hari. Kurikulum yang ketiga
yaitu kurikulum 1964 atau bisa disebut dengan kurikulum Rentjana Pendidikan
kurikulum ini pemerintah yang mempunyai keinginan agar rakyatnya mendapatkan
ilmu pengetahuan kan secara akademik untuk dibekalkan pada jenjang sekolah
dasar dan pembelajaran ini juga ada programnya yaitu pancawardhana.
Kurikulum yang yang keempat yaitu kurikulum 1968 di mana
kelahiran dari kurikulum tersebut bersifat politis kurikulum ini hanya memuat
pelajaran pokok-pokok saja. Kurikulum yang kelima yaitu kurikulum 1975
kurikulum tersebut lebih menekankan pendidikan yang efektif dan efisien
kurikulum ini memiliki konsep yaitu di bidang manajemen MBO. Yang keenam ada
kurikulum 1984 di mana kurikulum ini ini seringkali disebut dengan kurikulum
1975 karena kurikulum ini disempurnakan lagi dengan memposisikan siswa sebagai
subjek belajar, mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan hingga
melaporkan model daripada itu seringkali disebut dengan cara belajar siswa
aktif.
Yang ketujuh ada kurikulum 1994 dan suplemen kurikulum
1999 kurikulum 1994 ini memiliki
perpaduan dari tujuan dan proses yang belum berhasil karena beban belajar siswa
dinilai terlalu berat materi dari muatan lokal itu disesuaikan dengan kebutuhan
kan dari daerah masing-masing. Kurikulum yang kedelapan ada kurikulum 2004 atau
bisa kita sebut sebagai KBK (kurikulum berbasis kompetensi) kurikulum ini
memiliki kandungan tiga unsur pokok yaitu dari pemilihan kompetensi sesuai
spesifikasi indikator-indikator evaluasi dan pengembangan pembelajaran.
Kurikulum yang kesembilan yaitu kurikulum KTSP KTSP itu kurikulum tingkat
satuan pembelajaran atau tahun 2006 kurikulum tersebut pemerintah pusat lah
yang menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Kurikulum yang
kesepuluh yaitu kurikulum 2013 kurikulum ini memiliki tiga aspek penilaian
yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan dan aspek sikap dan perilaku kurikulum
ini merupakan kurikulum yang penyempurnaan modifikasi dan pemutakhiran dari
kurikulum yang sebelum-sebelumnya.
C. Landasan
Kurikulum
Ada 4 landasan yang dapat dijadikan acuan dalam mengembangkan
kurikulum, yaitu: (1) filosofis; (2) psikologis; (3) sosial-budaya; dan (4)
ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan
diuraikan secara ringkas keempat landasan tersebut (Nana Syaodih Sukmadinata
1997).
1. Landasan
Filosofis
Filsafat memegang peranan penting dalam
pengembangan kuikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita
dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti : perenialisme,
essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam
pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran – aliran filsafat
tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum
yang dikembangkan. Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan
keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum,
penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara eklektif untuk lebih
mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan
pendidikan. Meskipun demikian saat ini, pada beberapa negara dan khususnya di
Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan
kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.
2. Landasan
Psikologis
a. Psikologi
Perkembangan
Melalui kajian tentang perkembangan
peserta didik diharapkan pendidikan dapat berjalan sesuai dengan karakteristik
peserta didik serta kemampuannya, materi atau bahan pelajaran apa saja yang
sesuai dengan umur, bakat serta kemampuan daya tangkap peserta didik begitu
juga dengan cara penyampainnya dengan berbagai metode yang dapat diterima
dilihat dari sisi psikologis tiap peserta didik. Dalam hubungannya dengan
proses belajar mengajar, penahapan perkembangan yang digunakan sebaiknya
bersifat efektif, artinya tidak terpaku pada suatu pendapat saja tetapi
bersifat luas untuk meramu dari berbagai pendapat yang mempunyai hubungan erat.
b. Psikologi
Belajar
Psikologi belajar merupakan studi
tentang bagaimana individu belajar, yang secara sederhana dapat diartikan
sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi melalui pengalaman. Perubahan[1]perubahan
perilaku yang terjadi karena instink atau karena kematangan serta pengaruh
hal-hal yang bersifat kimiawi tidak termasuk belajar. Intinya adalah, bahwa
psikologi sangat membantu para guru dalam merancang sebuah kegiatan pembelajaran
khusunya untuk pengembangan kurikulum.
3. Landasan
Sosisologis dan Budaya
Landasan sosiologis kurikulum adalah asumsi-asumsi yang
berasal dari sosiologi yang dijadikan titik tolak dalam pengembangan kurikulum.
Menegapa kurikulum harus berlandaskan kepada landasan sosiologis? Anak-anak
berasal dari masyarakat, mendapat pendidikan baik informal, formal, maupun
nonformal dalam lingkungan masyarakat, dan diarahkan agar mampu terjun dalam
kehidupn bermasyarakat. Karena itu kehidupan masyarakat dan budaya dengan
segala karakteristiknya harus menjadi landasan dan titik tolak dalam
melaksanakan pendidikan. Oleh karena itu tujuan, isi, maupun proses pendidikan
harus disesuaikan dengan kondisi, karakteristik kekayaan, dan perkembangan
masyarakat tersebut (Tim pengembang MKDP, “Kurikulum Dan Pembelajaran”).
Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan
pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan
diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala
karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi
manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan
membuat peradaban masa yang akan datang Israel Scheffer (Nana Syaodih
Sukmadinata, 1997).
4. Landasan
Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi
Pada awalnya, ilmu
pengetahuan dan tekhnologi yang dimiliki manusia masih relatif sederhana, namun
sejak abad pertengahan Pengembangan Kurikulum mengalami perkembangan yang
pesat. Berbagai penemuan teori-teori baru terus berlangsung hingga saat ini dan
dipastikan kedepannya akan terus semakin berkembang
Berikut beberapa hal
yang melatarbelakangi dijadikannya IPTEK sebagai Landasan Kurikulum: a. Kegiatan
pendidikan membutuhkan dukungan dari penggunaan alat-alat hasil industri
seperti televisi, radio, video, komputer, dan peralatan lainnya. b. Pendidikan
merupakan upaya menyiapkan siswa menghadapi masa depan c. Perubahan
masyarakat& IPTEK yang semakin pesat.
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa
Landasan kurikulum
memiliki empat landasan yang landasan kurikulum memiliki empat landasan yang
dijadikan Acuan dari pengembangan kurikulum yang pertama yaitu filosofis yang
dapat kita artikan sebagai pandangan hidup suatu masyarakat penerapan dari pada
aliran filsafat ini lebih cenderung yang dilakukan secara kreatif untuk lebih
mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang ada dalam suatu
pendidikan. Yang kedua ada landasan psikologis landasan psikologis ini yang
memiliki dua yaitu Psikologi perkembangan dan psikologi belajar perkembangan
ini lebih perkembangan peserta didik dan psikologi belajar yaitu tentang
bagaimana individu itu belajar.
` Yang
ketiga adalah landasan sosiologis dan budaya landasan sosiologis kurikulum itu
merupakan asumsi yang berasal dari sosiologi yaitu dari interaksi antara
individu maka dari itu proses pendidikan harus sesuai dengan kondisi,
karakteristik kekayaan, dan perkembangan masyarakat yang keempat adalah dasar
ilmu pengetahuan dan teknologi dikarenakan iptek ini berkembang dengan pesat
maka otomatis kurikulum juga mengalami perkembangan yang pesat karena mengikuti
zaman banyak sekali teori-teori yang berkembang yang sesuai dengan kebutuhan
zaman.
Referensi
Dr.
Baderiah, M. Ag, 2018, Buku ajarn pengembangan kurikulum, Palopo: Lembaga penerbitan
Kampus IAIN Palopo.
Yudi
Candra Hermawan, Wikanti Iffah Juliani dan Widodo Hendro, Konsep kurikulum dan
kurikulum pendidikan Islam, Jurnal MUDARRISUNA,
Vol.10, No.1, Thn. 2020, hlm 36-39
Komentar
Posting Komentar